Selain Pernikahan, Inilah 3 Tradisi di Indonesia yang Menggunakan Emas
Semar Nusantara2026-06-17T09:42:46+07:00Salah satu tradisi adat di Indonesia yang menggunakan emas ataupun perhiasan di dalamnya adalah pernikahan. Dalam tradisi tersebut, emas berkedudukan sebagai bukti komitmen, keseriusan, serta kesetiaan antara pasangan seperti yang termuat dalam filosofi cincin kawin. Namun taukah Sobat Asmara, selain pernikahan, tradisi Indonesia di bawah ini juga menggunakan emas/perhiasan, lho!
Apa saja itu? Mari simak ulasan mimin di bawah ini!
Isi Amas (Kalimantan)
Tradisi pertama bernama Isi Amas yang berasal dari Kalimantan. Tradisi tersebut merupakan pemasangan gigi emas yang mencerminkan status sosial seseorang dan juga kekuatan budaya lokal. Tidak hanya itu, masyarakat pun percaya bahwa gigi emas tersebut bisa memancarkan kharisma seseorang ketika mereka tersenyum. Maka di samping sebagai tanda status sosial, Isi Amas menjadi simbol kecantikan dan tanda kedewasaan seseorang.
Umumnya pemasangan gigi emas dilakukan oleh orang tua kepada anaknya sebagai warisan turun-temurun. Di era kini, praktik tersebut sudah jarang ditemui, tetapi beberapa suku seperti Dayak dan Banjar masih mempertahankannya.
Perhiasan Mamuli (NTT)
Masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur ternyata juga memiliki tradisi upacara adat hingga pernikahan yang menggunakan perhiasan. Perhiasan anting tersebut bernama Mamuli yang terbuat dari logam berupa emas, perak, hingga kuningan. Bentuknya seperti organ reproduksi wanita dan mempunyai filosofis sebagai bentuk penghargaan kepada ibu.
Selain sebagai lambang status sosial, Mamuli juga digunakan ketika seorang pria melamar kekasihnya. Di samping itu, perhiasan yang dalam bahasa daerah ini disebut sebagai “omma” juga bisa dikenakan oleh pria. Umumnya mereka mengenakan benda ini ketika melakukan upacara adat seperti Upacara Pasola. Mamuli bahkan ikut dikuburkan ketika seorang ibu meninggal. Tapi di era sekarang, orang-orang lebih memilih untuk menjual atau mewariskan mamuli kepada anaknya.
Mappatoppo (Sulawesi Selatan)
Tradisi terakhir adalah sambutan kepulangan jamaah haji yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bugis – Makassar. Tradisi ini biasanya disebut sebagai Mappatoppo dan dirayakan sebagai bentuk rasa syukur karena telah melaksanakan rangkaian ibadah haji di Mekah. Jamaah haji laki-laki akan mengenakan sorban, sementara jamaah perempuan akan memakai cipo – cipo atau kerudung.
Uniknya, biasanya para jamaah perempuan tidak hanya memakai cipo – cipo. Mereka akan berdandan mewah ketika pulang sebagai wujud rasa syukur. Pakaian yang dikenakan penuh dengan gemerlap kilau termasuk perhiasan emas yang ada di tangannya.
Begitulah tradisi – tradisi di Indonesia yang ternyata juga menggunakan emas di dalamnya. Setiap tradisi yang ada mencerminkan kearifan lokal dan nilai kehidupan yang punya cerita di dalamnya. Dalam bahasan kali ini, kita pun bisa melihat bagaimana emas ternyata telah ikut berperan penting dalam sendi – sendi sosial di masyarakat sejak jaman dahulu.
Jangan lupa ikuti perkembangan info lainnya seputar tips, informasi, fakta unik seputar perhiasan, emas, investasi, ataupun fashion di website resmi Semar Nusantara.